Abu Nawas adalah pujangga Arab yang merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik.
Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).
Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.
Syair I'tiraf adalah doa Abu Nawas untuk merayu Tuhan, menjadi syair dan pujian yang populer di kalangan muslim.
Syairnya indah, membuat siapa saja yang membacanya secara khidmat ingin meneteskan air mata.
Dalam kumpulan cerita Kisah 1001 Malam Abu Nawas Sang Penggeli Hati, asal mula syair i’tiraf dijelaskan.
Alkisah ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama.
Orang pertama bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Abu Nawas menjawab, “Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.”
“Mengapa?” kata orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.
Orang kedua bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya.”
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan,” kata Abu Nawas.
Kini giliran orang ketiga, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu,” jelas Abu Nawas.
Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.
Ada murid yang sejak awal mendengar tanya jawab Abu Nawas dan ketiga tamunya.
Kerena belum mengerti ia pun bertanya kepada Abu Nawas.
“Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?” tanya si murid.
Jawab Abu Nawas, “Manusia dibagi menjadi tiga tingkatan.
Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati.”
Kemudian Abu Nawas menjelaskan ketiga tingkatan itu.
Ada anak kecil yang melihat bintang di langit.
Ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.
Demikianlah tingkatan mata.
Berbeda dari orang pandai yang melihat bintang di langit.
Ia mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan.
Inilah tingkatan otak.
“Lalu apakah tingkatan hati itu?” sela si murid.
Ialah orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit.
Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar.
Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apa pun yang besar jika dibandingkan dengan ke-Maha-Besaran Allah.
Si murid mulai mengarti maksud dari Abu Nawas.
“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?” si murid bertanya lagi.
“Mungkin,” jawab Abu Nawas.
“Bagaimana caranya?”
“Dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” jelas Abu Nawas.
“Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru.”
Doa itu adalah: Ilahi lastu lil firdausi ahlaan, wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi, fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi.
Begitulah kisah asal mula doa Abu Nawas yang dikenal dengan syair i’tiraf.
Berikut syair lengkap dan artinya:
اِلَهِى لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ اَهْلًا # وَلَا اَقْوَى عَلَى النَّاِر الْجَحِيمِ
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi.
Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni syurga. Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka.
فَهَبْ لِى تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي # فَإِنَّكَ غَافِرُ الذُنُوْبِ العَظِيْمِ
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi.
Terimalah tobat-tobat hamba dan ampunilah dosa-dosa hamba. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun atas segala dosa yang hamba perbuat.
ذُنُوْبِى مِثْلُ اَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَا ذَا الْجَلَالِ
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali.
Dosa-dosa hamba bagaikan tumpukan pasir. Terimalah tobat hamba, wahai yang Maha Mulia.
وَ عُمْرِى نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَ ذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ اخْتِمَالىِ
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali.
Sementara umur hamba kian hari kian berkurang. Dan dosa hamba kian bertambah, bagaimana mungkin hamba mampu memikulnya.
إِلَهِى عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka.
Wahai tuhanku, hamba-Mu yang penuh dengan dosa ini, kini menghadap-Mu memohon ampunan.
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ اَهْلٌ # وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka.
Jika Engkau mengampuni, pantaslah karna Engkau maha pengampun. Namun, jika Engkau menolak permohonan hamba, kepada siapa hamba berharap selain Engkau.
Terjemahan bahasa jawa :
Duh Pengeran kula sanes ahli suwarga. Nanging kula mboten kiyat wonten neraka.
Mugi Tuhan paring taubat dumateng kula. Estu Tuhan kang ngapura agunge dosa.
Dosa kula kados wedhi ing segara. Mugi gusti kersa nampi taubat kula.
Saben dinten dosa kula tambah umur suda. Kados pundi anggenipun kula nyangga.
Duh Gusti kawula sowan dhateng Paduka. Sarana ngakeni dosa kelawan ndunga.
Yen paring ngapura estu Gusti kuwasa. Yen mboten dingapura sinten pengajeng kula?.
***** dari berbagai sumber.

Comments
Post a Comment