Skip to main content

OBAT HIPERTENSI: KETERGANTUNGAN ATAU KEBUTUHAN ?


Salah satu komponen penting dalam upaya mengendalikan tekanan darah tinggi adalah mengonsumsi obat darah tinggi. Namun sayangnya, sebagian besar penderita hanya mengonsumsi obat yang diberikan bila sudah ada gejala sakit kepala atau pusing, dan tekanan darahnya naik.

Saat tekanan darah sudah normal dan tidak ada keluhan, maka obat dihentikan. Alasan yang seringkali dikemukakan adalah ”Saya takut ginjal saya rusak karena terlalu banyak makan obat”, atau “Saya takut nanti jadi ketergantungan obat, dok”. Benarkah demikian?

Kebutuhan VS Ketergantungan 

Kebutuhan dan ketergantungan adalah dua keadaan yang berbeda. Kebutuhan adalah suatu keadaan yang lebih cenderung fisiologis (alamiah) dibanding patologis (tidak normal); sedangkan ketergantungan adalah suatu yang lebih patologis karena sudah terjadi sensitisasi pada susunan saraf akibat penyalahgunaan obat.

Sesuai dengan penjelasan yang sudah disampaikan diatas,hipertensi adalah suatu keadaan patologis yang bersifat menetap, maka obat antihipertensi harus dikonsumsi setiap hari dan seumur hidup, bukan hanya bila sedang timbul gejala.

Meskipun hipertensi tidak dapat sembuh, tapi penyakit ini dapat dikontrol. Selain obat, hipertensi dapat dikontrol dengan olahraga, menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan, dan menurunkan faktor risiko lain seperti kolesterol dan diabetes.

Kesaksian yang terkadang menyesatkan

Mungkin Anda sering mendengar cerita bahwa ada beberapa orang yang pernah divonis menderita darah tinggi, namun hanya mengonsumsi obat sementara saja dan tidak berkesinambungan karena takut ketagihan, dan saat ini masih memiliki tekanan darah yang normal. Hal yang harus dipertanyakan dari kesaksian ini adalah apakah orang tersebut benar-benar menderita darah tinggi, atau hanya sedang mengalami peningkatan tiba-tiba tekanan darah yang bersifat sementara (misalnya ; karena terkejut, sedang sakit gigi, sedang marah dan penyebab-penyebab lainnya).

Keraguan untuk mengonsumsi obat hipertensi dengan alasan ketakutan akan kerusakan ginjal, sebenarnya tidak benar. Hipertensi yang dibiarkan dalam waktu lama justru akan menyebabkan penyempitan pada seluruh pembuluh darah arteri dan bersifat progresif, termasuk pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak (menyebabkan stroke), jantung (menyebabkan penyakit jantung koroner dan kematian mendadak) dan ginjal (yang menyebabkan gagal ginjal sampai dengan cuci darah).

Pilihan ada pada Anda !

Ilustrasi yang baik mungkin adalah seperti ini: penderita hipertensi berat (tekanan darah >160 mmHg) apabila tidak mengonsumsi obat darah tinggi akan berujung pada cuci darah dalam waktu 5 tahun karena penyempitan pembuluh darah ginjal, sementara bila memakan obat darah tinggi, mungkin berpuluh tahun baru ginjal akan terpengaruh efek samping obat, sementara penyempitan pembuluh darah ginjal terjadi sangat minimal. Manakah yang akan Anda pilih? 

Sumber : Kardiologi Ilmu Penyakit Dalam RSCM.

Comments

Popular posts from this blog

Tips cara merawat sepeda lipat dari Bos Element Bike

Bersepeda mulai jadi trend saat wabah virus corona mulai melanda tanah air pada awal tahun 2020. Umumnya mereka bersepeda untuk menjaga tubuh tetap bugar di masa wabah virus menular.  Trend bersepeda membuat sebagian orang yang tadinya tidak suka bersepeda jadi ikut bersepeda. Mereka sengaja datang ke toko sepeda untuk membeli sepeda baru. Sepeda lipat, jadi salah satu jenis sepeda yang paling banyak diburu masyarakat. Jangan heran, sepeda lipat menawarkan bobot yang ringan dan bentuk ringkas. Hal ini membuat para pemiliknya mudah membawa dan menyimpan sepeda lipat.  Merawat Sepeda Lipat Hendra, Chief Executive Officer (CEO) PT Roda Maju Bahagia (Element Bike) mengatakan setiap pemilik sepeda wajib merawat sepeda lipat miliknya bila ingin tahan lama.  Hendra menambahkan perawatan sepeda lipat harus dilakukan secara teratur agar performanya tidak turun.  Cara Merawat Sepeda Lipat  Sepeda lipat harus dirawat dengan baik dan benar bila ingin awet alias ...